Anak saya Rafardhan Al Karim, lahir spontan tanpa induksi atau alat bantu persalinan lainnya pada 26 Juni 2015 jam 04:35 dengan BB 2,7kilo dan PB: 47cm.. Kondisi seluruhnya normal tidak ada gejala kelainan sehingga kami bisa check out dr ruang rawat inap di keesokan harinya.
Dokter spesialis anak saya menjadwalkan kontrol pertama anak pada usia Al memasuki 6hari. Ada pemeriksaan laboratorium untuk billirubin dan hasilnya Al dinyatakan kuning karena billirubin nya mencapai 15,73 dan dokter menyarankan untuk di blue light. Kami orangtuanya mengikuti saran sang dokter dan pada malam itu juga Al langsung masuk ruang perinatologi untuk mendapatkan perawatan intensif. Mengingat di RUmah Sakit tempat Al dirawat tidak disediakan kamar yg dapat disewa untuk penunggu pasien, maka saya harus menunggu di ruang tunggu karena Al perlu ASI saya.. Meskipun pemberian ASI dilakukan dengan metode pumping, saya yang pada saat itu masih minim produksi ASI terus berjuang untuk memenuhi kebutuhan Al sebanyak 500ml per hari.. Sementara di awal saya pumping hanya berhasi memompa 30ml.. Dapat dibayangkan harus berapa kali saya pumping dan makan+minum dengan kuantitas dan kualitas yg ditingkatkan dari biasanya.. Saat itu kondisi saya yang belum terlalu fit pasca melahirkan berhasil memenuhi kebutuhan ASI untuk Al dengan memompa asi setiap 2 jam. Hingga kaki saya bengkak karena menahan tidur dan memompa ASI dengan posisi duduk selama 2 malam. Saya minum air putih 4,5 liter per hari dan makan makanan bergizi.. Demi memenuhi kebutuhan Al.. Kemudian setelah di blue light selama hampir 30jam, akhirnya Al boleh pulang karena bilirubin nya sudah turun menjadi 9,17.
Setelah itu perawatan di rumah kami lakukan seperti menjemur dan asupan ASI eksklusif.. Dan saat itu ASI saya sedang produktif2nya.. Saya berhasil memompa 130-150ml utk 1x pompa.. Dan percaya diri bahwa dapat memenuhi kebutuhan Al..
Namun ujian datang kembali.. Al yang biasanya bab 6-7x dalam sehari tiba2 tidak bab sama sekali selama 2hari.. Saya panik lalu saya tanya dokter menyarankan utk di observasi sampe hari ke 3 Al bisa bab namun sangat sedikit sekali. Setelah itu Al kembali tidak bab selama 3 hari dan kami memutuskan untuk membawa Al kontrol ke dokter.. Saat itu malam takbiran, untungnya DSA yg menangani Al masih praktek dan pada saat diukur bb nya jadi 2,5kilo malah turun 200 gr dr bbnya pd saat lahir.
Seperti pada foto di atas.. Begitu memprihatinkan melihat Al begitu kurus.. Pipi tirus dan lehernya terlihat kecil sekali.. Bahkan saat saya mengetik inipun saya menitikkan air mata karena hati saya seperti disayat2 kalau ingat saat itu..
Kemudian dokter meminta pengambilan foto radiologi di perut dan memeriksa fisiologis Al yang pada saat itu dinyatakan tongue tie. Sedikit info saja tongue tie adalah sejenis kelainan pada fisiologis lidah dimana lidah tidak dapat menjulur seperti manusia pada umumnya. Sebabnya karena selaput di bawah lidah yang terlampau panjang. Hal ini bisa berdampak pada kemahiran dalam berbicara untuk jangka panjang.. Dan kesulitan menyusu seperti yg dialami Al. Dokter merujuk kami utk menemui dokter spesialis bedah mulut utk dilakukan tindakan terhadap tongue tie yg dialami oleh Al. Berhubung suasana lebaran para dokter belum banyak yg praktek sehingga ditunda sekitar 4 hari. Sementara itu dokter menyarankan agar asupan ASI Al tetap terpenuhi ASI saya dipompa dan dapat menggunakan cupfeeder atau sendok. Tidak dengan dot. Namun karena kami kesulitan menggunakan cupfeeder atau sendok akhirnya kami menggunakan dot demi meningkatkan bb Al yg sempat turun.
Lalu masalah kembali muncul. Ditengah2 tuntutan kebutuhan asi Al yg tinggi, saya diserang meriang hebat sampai menggigil karena payudara kanan saya meradang dan sakit sekali. Produksi ASI saya turun drastis menjadi 30-40ml setiap kali pompa. Ditambah dengan payudara saya yang semakin sakit dan mengeras di salahsatu sisi. Oleh karena itu saya mencari klinik laktasi untuk konsultasi dan meminta bantuan untuk masalah di payudara saya. Lalu saya datang ke klinik laktasi di RSIA Hermina dan saya di massage di payudara. Kalau ingin tahu rasa sakit nya gimana mungkin bayangkanlah kaki dilindas truk. Yah seperti itulah kira2. Peradangan dan bengkak di payudara saya tidak berkurang sama sekali. Saya diberi obat untuk pereda nyeri dan antibiotik untuk mencegah infeksi dan mastitis. Terapis disana menyarankan saya untuk melanjutkan massage di rumah hingga bengkak nya berkurang dan tidak keras lagi sambil dipompa agar asi tetap dapat keluar. Perawatan dirumah tidak berjalan baik karena sama sekali tidak ada perubahan. Rasa nyeri dan meriang hilang saat saya minum obat. Namun selain itu rasa nyeri nya tetap ada.
Persoalan tongue tie Al belum selesai. Di RSIA hermina ada dokter spesialis bedah anak yg dapat melakukan tindakan untuk Al. Beliau bernama Dr. Catur. Langsung kami buat appointment untuk ketemu beliau. Pada saat praktek, Dr. catur akan melakukan insisi di bawah lidah Al namun harus dilakukan dengan mekanisme anastesi total. Saya dan suami awalnya ragu karena untuk Al, bayi berusia 28 hari harus dibius total kok rasanya takut dan ngeri. Namun kami tetap mengikuti saran dokter akan kami jalani. Malam itu Al harus diambil darah karena sampel nya diuji di lab untuk mengetahui kondisi Al pra operasi. Saat itu laboran kesulitan mencari vena pada tangan Al yang mengakibatkan tangan Al bengkak sementara pengambilan sampel darah tidak berhasil. Suami saya kontan membatalkan proses itu sekaligus rencana operasi untuk Al. Kami pulang dan berupaya untuk mencari opsi lain.
Teringat yang disampaikan pada sesi konsultasi dengan Dr. catur beliau sempat menyebutkan salahsatu dokter spesialis anak bersertifikasi laktasi di RSIA Kemang medical care bernama Dr. asti proborini. Lalu suami saya mencari tau lewat google dan kami sepakat untuk ketemu beliau. Mengingat padatnya jadwal praktek beliau maka kami baru dapat antrian di 3hari setelahnya. Lagi2 Allah memberi jalan pada hari itu jumat pagi suami saya mencoba menghubungi KMC dan pas ada cancel dari pasien lain sehingga Al bisa diperiksa meskipun itu nomor antrian terakhir.
Langsung saya dan Al meluncur dari rumah menuju KMC dan pertemuan pertama dengan Dr. Asti menurut saya berkesan karena beliau mengatas ijinkan Allah SWT akan bantu saya supaya bisa menyusui Al hingga optimal sekurang2nya selama dua tahun. Hari itu Al langsung di insisi untuk tongue tie dan lip tie nya. Proses insisi hanya perlu waktu 2 menit. Setelah itu Al menyusu dan ajaib dia langsung sembuh tanpa ada luka sama sekali. Namun untuk mengejar berat badan Al yg pada saat itu baru naik 120gr, Al disarankan melakukan suplementasi dengan susu formula melalui selang yang disambungkan ke puting saya. Karena ternyata Al mulai terkena bingung puting karena selama 6 hari kemarin saya memberikan ASI dengan menggunakan dot. Untuk mengatasinya maka pemberian suplementasi menggunakan selang.
Sementara saya bahagia karena Al sudah ditolong namun masalah payudara saya ternyata berdampak serius. Dr. Asti mendiagnosa saya terkena mastitis dan harus dirawat untuk mendapatkan injeksi antibiotik supaya bisa mereda. Saat itu juga langsung saya putuskan saya mau dirawat dengan semangat bahwa saya ingin menyusui Al seoptimal mungkin.
Saya masuk rawat inap pada hari jumat. Setelah 2 hari Dr. Asti melihat tidak ada perubahan pada peradangan payudara saya. Namun rasa sakit nya sudah berkurang. Beliau takut payudara saya abses bernanah sehingga beliau meminta dokter bedah untuk memeriksa saya. Karena jika sudah abses bernanah maka harus dikeluarkan nanah nya dengan cara insisi. Kemudian datanglah dokter bedah dr. Myra namanya yg memeriksa payudara saya. Beliau mengambil sampel dengan menusuklan jarum suntik di payudara saya dan ternyata benar memang sudah bernanah. Mau tau rasa nya ketika jarum suntik itu ditusukkan?? Mungkin dokternya bilang seperti digigit semut. Iya benar semut rang rang 100 ekor saya rasa. Lagi2 Allah maha baik karena pada saat itu pun asi saya masih keluar sehingga dr. Myra masih optimis bahwa penyembuhan pasca operasi saya akan berjalan dengan baik. Akhirnya saya dan suami menyetujui tindakan operasi insisi payudara saya pada hari senin jam 6.00 pagi. Saya takut sekali karena itu kali kedua saya masuk ruang operasi seumur hidup saya. Terkahir pada saat usia saya 9tahun. Namun saya coba menyembunyikan rasa takut itu. Menyingkirkan stress agar ASI saya tetap keluar. Dan tetap berpikiran positif bahwa saya akan sehat krmbali dan ASI saya akan lebih produktif.
Operasi berlangsung 30 menit. Jadi dilakukan sayatan atau lebih tepatnya lubang di pangkal payudara saya sebesar 1,5cm untuk mengeluarkan nanah yg sudah terlokalisir di payudara saya. Lubang tersebut diisi tampon untuk menampung nanah, darah dan asi yg mungkin masih merembes di payudara. Setelah itu dokter akan mengganti tampon nya hingga nanah nya bersih. Saya masih opname sampai 3 hari pasca operasi. Injeksi obat dan antibiotik tetap dilakukan. Semua obat dimasukkan melalui selang infus hingga tangan saya membengkak. Kemudian saat2 menakutkan adalah pada saat ganti tampon karena menurut sebagian besar orang itu sangat menyakitkan. Namun saya tahan terus sakitnya demi kesembuhan saya dan utamanya demi Al. Dan syukur Alhamdulillah di hari ke 3 nanah dan darahnya sudah bersih sehingga saya diperbolehkan pulang.
Perjuangan terus berlanjut. Upaya mati2an untuk mengejar kekurangan bb nya Al dengan segala cara hingga Alhamdulillah Al bisa naik bb nya 180gr di 2 hari pasca pulang opname.
Sementara saya masih dipasangi tampon, saya terus minta Al supaya menyusu di payudara bekas insisi. Alhamdulillah Al tidak menolak namun memang tidak berlangsung lama mungkin karena masih dipasangi perban sehingga Al kurang suka dengan bau obat nya.
Syukur Alhamdulillah bb Al naik terus namun produksi ASI saya perlu ditingkatkan dan Dr. Asti menyarankan saya untuk akupunktur. Apapun saya coba untuk Al. Sekedar info saja bahwa terapi akupunktur ASI bisa dilakukan oleh semua ibu menyusui yg mengalami penurunan produksi ASI.. Krn dilakukan di 28titik 14 diantara nya adalah titik stamina yg membuat tubuh nyaman dan rileks.. Setiap terapi akupunktur di KMC berbiaya 250ribu.. Durasinya 30menit..
Setelah terapi akupunktur memang saya merasa lebih nyaman, dan ASI saya menjadi lebih agresif.. Di payudara saya yg bekas mastitis sampai netes2.. Artinya kelenjar2 susu telah aktif kembali.. Alhamdulillah..
Saat ini usia Al 45 hari.. Pintar merespon.. Pipinya kembali berisi dan sekarang dia punya double chin.. Sedang rajin2nya menyusu dan tidak terlalu rewel seperti dulu.. Tidurnya nyenyak.. Beratnya naik 700gr dr beratnya waktu lahir.. Slow weight gain memang tapi peningkatan bbnya positif dan pesat. Memang belum menyentuh angka average weight pada anak seusianya namun tidak menjadi masalah karena setiap hari bb nya naik terus dan produksi ASI saya semakin bertambah bahkan sudah mulai saya stok di kulkas persiapan untuk menghadapi masuk kerja nanti.. mudah2an seterusnya tumbuh kembang Al selalu lebih baik dan atas ijin Allah saya bisa menyusui Al seoptimal mungkin sebagaimana pada Al Qur'an yaitu sekurang-kurangnya 2 tahun.
Saya bukan pejuang ASI.. Saya hanya seorang Ibu yang berusaha menjalankan ibadah sebagai umat Allah untuk melahirkan dan membesarkan anak keturunan yang shaleh dan shaleha.

